Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Jokowi Ramal Kebangkitan PSI di 2034: Dari Partai Muda ke “Super Tbk” Politik
Img 20250719 194521

Jokowi Ramal Kebangkitan PSI di 2034: Dari Partai Muda ke “Super Tbk” Politik

Img 20250719 194521

Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, kembali memainkan peran sebagai kingmaker politik saat menghadiri Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Solo, Sabtu (19/7/2025).

Dalam panggung politik yang kian dinamis, Jokowi melempar sinyal optimisme bagi PSI, partai yang kerap diposisikan sebagai “anak ideologis reformasi” sekaligus loyalis setia terhadap arah kebijakan pemerintahannya.

Menggunakan retorika khas “politik perasaan”, Jokowi menyampaikan prediksi bahwa PSI belum akan mencatat lonjakan elektoral pada Pemilu 2029, tetapi justru akan menyentuh titik balik pada 2034.

“Feeling saya akan mulai di 2034,” ucap Jokowi, menegaskan intuisi politiknya yang selama ini dianggap tajam dalam membaca lanskap kekuasaan.

Pernyataan itu mengandung idiom “politik sabar”, sebuah pendekatan yang mengedepankan investasi waktu dan konsolidasi jangka panjang alih-alih mengejar kemenangan instan.

Di tengah siklus lima tahunan yang biasanya memicu manuver elektoral cepat, Jokowi mendorong PSI untuk membangun kekuatan secara bertahap dan sistematis.

Lebih lanjut, Jokowi mengangkat konsep “partai super Tbk”—sebuah metafora yang menggambarkan model partai politik modern dengan kepemilikan kolektif.

Dalam idiom ekonomi-politik, partai tersebut tidak tunduk pada oligarki atau dinasti, melainkan dimiliki secara egaliter oleh pengurus, kader, dan anggota. “Tidak ada kepemilikan elite, tidak ada kepemilikan keluarga,” tegasnya.

Konsep ini menabrak praktik politik lama yang sering terjebak pada patronase dan struktur piramida kekuasaan.

Jokowi seolah menggagas model PSI sebagai perusahaan politik terbuka, di mana setiap kader memiliki “saham” tanggung jawab dan idealisme. Inilah bentuk “demokrasi saham kolektif”, di mana loyalitas dibentuk bukan lewat kultus individu, tetapi kesetaraan kepemilikan dan tanggung jawab politik.

Dukungan ini sekaligus mempertegas relasi ideologis antara Jokowi dan PSI—sebuah afiliasi politik yang selama ini beroperasi di ruang publik melalui dukungan terhadap program-program pemerintahan.

Dalam panggung kontestasi, Jokowi tampaknya menempatkan PSI sebagai “kuda cadangan ideologis”, yang suatu saat akan lepas dari sirkuit partai kecil menuju panggung kekuasaan yang lebih besar.

Dengan idiom “politik tanam modal jangka panjang”, PSI ditantang untuk menjaga stamina perjuangan, membangun basis akar rumput, dan memoles narasi kebangsaan yang relevan dengan generasi pemilih masa depan.

Artikel Terkait

File 00000000b3308230b4bed00bcc1bdc87

El Niño Meluas di Babel,…

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, Selasa 28…