Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Jejak Sejarah Kerajaan Badau: Warisan Budaya dari Belitung
Img 20250724 062819

Jejak Sejarah Kerajaan Badau: Warisan Budaya dari Belitung

Img 20250724 062806

oleh ; Akhlanudin

Di balik keindahan alam Belitung yang memukau, tersimpan kisah kerajaan tua yang menjadi tonggak sejarah dan identitas masyarakat setempat: Kerajaan Badau. Berdiri sejak abad ke-15, kerajaan ini tidak hanya mewariskan struktur kepemimpinan, tetapi juga tradisi, artefak, dan nilai budaya yang masih dijaga hingga kini.

Kerajaan Badau bermula dari perjalanan seorang bangsawan Jawa bernama Datuk Mayang Gresik, yang datang ke Pulau Belitung atas anjuran Sultan Badarudin. Tujuan awalnya sederhana: mencari obat untuk mengobati penyakit. Namun, takdir berkata lain. Ia menetap di kawasan Pelulusan, di kaki Gunung Badau, dan menikahi penduduk lokal.

Dari perpaduan budaya ini lahirlah cikal bakal Kerajaan Badau—sebuah entitas politik dan budaya yang menandai kehadiran kekuasaan lokal di Belitung bagian barat.

Kerajaan Badau memiliki cakupan wilayah yang luas:

  • Badau
  • Bentaian
  • Bange
  • Simpang Tiga
  • Ibul
  • Buding
  • Gantung
  • Manggar

Dengan kekuasaan yang terbentang melintasi kawasan pedalaman dan pesisir, Kerajaan Badau memegang peran sentral dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Belitung kala itu.

Setelah Datuk Mayang Gresik, kepemimpinan berpindah tangan ke sejumlah tokoh penting:

  • Batin Badau (Ngabehi Badi Patah)
  • Datuk Padu
  • Datuk Deraim
  • Datuk Abdul Rahman (diangkat oleh Belanda sebagai Kepala Distrik Badau pada 1853)
  • Datuk Abdul Awal
  • Kik Moh Arif
  • Djuki
  • Djohar, yang kini dikenal sebagai juru kunci Museum Badau

Setiap pemimpin tidak hanya membawa arah politik baru, tetapi juga memperkuat ikatan budaya dan tradisi kerajaan.

Di era kolonial Belanda, Belitung menjadi bagian dari kesepakatan pengaruh Eropa. Pada tahun 1817, pulau ini diserahkan dari Inggris ke Belanda. Kekuasaan tradisional seperti Badau mulai “diintegrasikan” ke dalam struktur kolonial.

Datuk Abdul Rahman dijadikan mandor kampung oleh Belanda, dengan gaji yang dibayarkan melalui kerja paksa rakyat selama lima hari setiap tahun. Sistem ini mencerminkan bagaimana kerajaan lokal sering dijadikan alat administratif oleh penguasa kolonial.

Museum Badau kini menjadi penjaga sejarah kerajaan ini. Di dalamnya tersimpan beragam artefak:

  • Tombak Berambu, keris, pedang, gong, kelinang, dan garu rasul
  • Pakaian pengantin zaman dulu
  • Alat kebesaran dan simbol kerajaan

Salah satu warisan khas yang masih dilestarikan adalah Parang Badau, senjata tradisional yang dulu digunakan oleh penjaga dan pendekar kerajaan. Pengrajin lokal masih membuatnya dengan teknik warisan leluhur.

Kerajaan Badau bukan hanya sebuah monumen sejarah—ia adalah cerita tentang identitas, ketahanan budaya, dan transformasi masyarakat Belitung dari zaman kerajaan hingga era modern.

*) Akhlanudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014-2018

Artikel Terkait

InShot 20260711

KPK Resmi Tahan Mantan Sekjen…

MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA — Komisi…

InShot 20260711

Kurang dari 2×24 Jam: Dari…

MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA – Dinamika…

IMG 20260711

Goresan Puisi Epik KDB

TANGAN HITAM DI BAWAH TANAH Aku…