- Oleh: Akhlsnudin*)

Belitung Timur, — Di balik lanskap hutan tropis yang hijau, tersimpan lubang tambang raksasa yang pernah menjadi pusat denyut industri timah nasional. Open Pit Kelapa Kampit bukan sekadar sisa eksploitasi mineral, tapi juga simbol ambisi teknologi dan transformasi sosial yang mengubah wajah Belitung Timur sejak dekade 1970-an.
Nama “Open Pit Kelapa Kampit” merujuk pada bekas area tambang terbuka yang menjadi tonggak awal pertambangan dalam Indonesia.
Terletak di Kecamatan Kelapa Kampit, kawasan ini dulunya menjadi lokasi operasi penambangan timah oleh perusahaan Australia, BHP Billiton, sebelum kemudian dilanjutkan oleh perusahaan Jerman, Preussag GmbH.
Uniknya, nama “Kelapa Kampit” sendiri diperkirakan berasal dari cerita rakyat lokal tentang kepala-kepala manusia yang saling berhimpitan dan tumbuh di Gunung Kik Karak—tempat tambang ini berada.
Legenda tersebut merefleksikan keterikatan spiritual dan budaya masyarakat terhadap gunung sebagai ruang yang sakral dan penuh makna.
Sementara itu, nama Open Pit Nam Salu berasal dari penggabungan dua elemen: “Open Pit” sebagai penanda bekas lokasi penambangan timah terbuka, dan “Nam Salu” sebagai nama daerah di Belitung tempat tambang itu berada.
Secara keseluruhan, nama ini mencerminkan identitas geografis dan sejarah operasional tambang di kawasan tersebut, yang turut memperkaya peta tambang timah nasional.
Titik Balik Industri Pertambangan
Dikenal sebagai tambang dalam pertama yang menggunakan metode open pit mining di Indonesia, kawasan ini menjadi pionir dalam penerapan teknik penggalian terbuka skala besar. PT Timah, bersama mitra asing, memulai eksplorasi intensif setelah menemukan cadangan timah primer yang menjanjikan.
“Teknologinya jauh melampaui apa yang biasa digunakan saat itu. Kami menggunakan alat berat skala industri—shovel, dragline, dan kendaraan angkut—untuk menggali hingga lebih dari seratus meter,” ungkap Sulaiman, mantan teknisi geologi Kelapa Kampit.
Masyarakat yang Berkembang di Pinggir Tambang
Sisi lain dari keberadaan tambang adalah terbentuknya komunitas-komunitas baru: kamp kerja, rumah sakit mini, sekolah, hingga rumah ibadah. Belitung Timur, yang dulunya agraris, menjelma menjadi episentrum industri.
Perpaduan budaya pun terjadi, dengan masuknya tenaga kerja dari berbagai penjuru negeri.
“Kelapa Kampit bukan cuma tempat kerja. Ia membentuk identitas kami. Banyak yang lahir, besar, dan menikah di sana,” kata Nurhayati, warga lokal yang orang tuanya dulu bekerja di tambang.
Transformasi Menjadi Situs Edukasi
Setelah operasi utama ditutup, open pit Kelapa Kampit tak benar-benar hilang dari ingatan.
Kini, berbagai pihak berupaya menghidupkannya kembali sebagai objek wisata geologi dan situs edukasi.
Pemerintah daerah bersama akademisi menggagas museum timah mini, jalur wisata tambang, dan kegiatan tanam kembali vegetasi lokal.
Warisan Kelapa Kampit menjadi refleksi tentang bagaimana teknologi, manusia, dan alam bertemu dalam satu narasi besar: pertambangan sebagai pembentuk sejarah dan identitas.
- Akhlanudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014-2018












