Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • BNPB: 780 Orang Tewas, 564 Hilang Akibat Banjir Bandang dan Longsor Besar di 3 Provinsi Sumatera
Inshot 20251204 112244914

BNPB: 780 Orang Tewas, 564 Hilang Akibat Banjir Bandang dan Longsor Besar di 3 Provinsi Sumatera

Intisari Berita:

  • Banjir bandang dan longsor akibat hujan ekstrem sejak Senin (1/12) melanda Aceh, Sumbar, Sumut. Menurut BNPB (4/12), korban jiwa mencapai 780 orang meninggal, 564 hilang, dan 2.600 terluka. Sumut menjadi provinsi terdampak paling parah.
  • Kerusakan massif terjadi: 10.400 rumah, 378 fasilitas umum, 9 rumah sakit, 225 sekolah, 144 rumah ibadah, 105 gedung kantor, dan 295 jembatan rusak.
  • Akses darat terputus karena jembatan roboh, sehingga bantuan dikirim via helikopter dan perahu.
  • Status tanggap darurat tingkat III diaktifkan, lebih dari 45.000 warga mengungsi.
  • BNPB memperingatkan risiko bahaya masih tinggi karena curah hujan berpotensi kembali.

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru dampak bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut) pada Kamis (4/12/2025) pukul 06.25 WIB. Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi sejak hari Senin (1/12/2025) akibat curah hujan ekstrem selama 3 hari berturut-turut telah menimbulkan korban jiwa yang mengkhawatirkan: 780 orang meninggal dunia, 564 orang masih dalam status hilang, dan 2.600 orang mengalami luka-luka ringan hingga berat.

Rincian Korban Jiwa per Provinsi

Data korban per provinsi yang disampaikan oleh Juru Bicara BNPB, Dr. Siti Nurhaliza, menunjukkan bahwa Sumatera Utara menjadi provinsi terdampak paling parah dalam hal korban meninggal, dengan angka mencapai 299 orang. Diikuti oleh Aceh dengan 277 orang dan Sumbar dengan 204 orang.

“Angka hilang juga masih tinggi: 212 orang di Sumbar, 193 di Aceh, dan 159 di Sumut. Tim SAR dari BNPB, TNI, Polri, dan masyarakat masih terus melakukan pencarian di daerah yang terendam lumpur dan air, terutama di lembah-lembah dan pinggir sungai yang tergenang parah,” ungkap Siti Nurhaliza dalam konferensi pers virtual.

Sebagian besar korban meninggal dan hilang berasal dari warga yang tidak sempat evakuasi ketika banjir bandang tiba dengan cepat, atau terjebak di dalam rumah ketika tanah longsor melanda pemukiman di lereng bukit.

Kerusakan Infrastruktur dan Hunian Massif

Selain korban jiwa, bencana juga menyebabkan kerusakan massif pada infrastruktur dan hunian warga di ketiga provinsi. Berdasarkan data yang dikumpulkan hingga hari Rabu (3/12/2025) malam, kerusakan yang terjadi antara lain:

  • 10.400 rumah rusak (3.200 di Aceh, 4.100 di Sumbar, 3.100 di Sumut), sebagian besar rusak parah bahkan hancur total.
  • 378 fasilitas umum (seperti pasar, posyandu, dan balai desa) yang tidak dapat digunakan.
  • 9 fasilitas kesehatan (rumah sakit dan puskesmas) yang rusak, membuat pelayanan medis di daerah terdampak terganggu.
  • 225 fasilitas pendidikan (sekolah SD, SMP, SMA, dan SMK) yang terendam atau rusak, sehingga belajar mengajar harus dihentikan sementara.
  • 144 rumah ibadah (masjid, gereja, dan pura) yang terkena dampak.
  • 105 gedung kantor pemerintah dan swasta yang rusak.
  • 295 jembatan yang roboh atau tergenang, menyebabkan akses darat ke beberapa daerah terputus total.

“Kerusakan jembatan menjadi masalah utama saat ini, karena mempersulit pengiriman bantuan makanan, obat-obatan, dan perlengkapan evakuasi ke daerah terisolasi. Kami sedang berusaha menggunakan helikopter dan perahu untuk mengatasi kendala ini,” tambah Siti Nurhaliza.

Penanganan Bencana dan Bantuan yang Diberikan

Pihak BNPB telah mengaktifkan status tanggap darurat tingkat III di ketiga provinsi sejak hari Selasa (2/12/2025). Kepala BNPB, Komjen (Purn) Muhammad Syahrul, juga telah mengunjungi beberapa lokasi terdampak, antara lain di Kabupaten Padang Pariaman (Sumbar) dan Kabupaten Langkat (Sumut), untuk memantau langsung proses penanganan.

“Kami telah mendistribusikan bantuan darurat berupa 5.000 paket makanan, 3.000 selimut, 2.000 tenda, dan obat-obatan ke daerah terdampak. Selain itu, tim medis dari Kementerian Kesehatan juga telah dikirim untuk memberikan perawatan kepada korban terluka,” ungkap Syahrul.

Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga turut berperan dalam evakuasi warga dan menyediakan tempat penampungan sementara. Sampai saat ini, telah ada lebih dari 45.000 warga yang mengungsi di 120 tempat penampungan yang disiapkan.

Prospek Masa Depan dan Peringatan

BNPB juga memberikan peringatan bahwa curah hujan masih berpotensi terjadi di beberapa daerah Sumatera dalam beberapa hari ke depan, sehingga risiko banjir dan longsor masih tinggi.

“Kami mendesak warga yang tinggal di daerah rawan untuk tetap waspada dan siap evakuasi kapan saja jika ada tanda-tanda bahaya,” kata Siti Nurhaliza.

Proses pemulihan dan rekonstruksi juga diantisipasi akan membutuhkan waktu cukup lama, terutama untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Pemerintah juga akan melakukan penilaian kerusakan yang lebih rinci setelah situasi kondusif untuk menentukan bantuan dan program pemulihan jangka panjang.

Sumber: Konferensi Pers Virtual BNPB (4 Desember 2025) dan Data Lapangan Tim SAR

Artikel Terkait

File 00000000b3308230b4bed00bcc1bdc87

El Niño Meluas di Babel,…

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, Selasa 28…