TANJUNGPANDAN, MEDIA DAULAT RAKYAT – Pemerintah Kabupaten Belitung menetapkan kebijakan baru di sektor pariwisata. Mulai tahun 2027, wisatawan yang berkunjung ke Belitung diwajibkan menginap minimal 2,5 malam.
Kebijakan ini bukan sekadar aturan administratif, tetapi bagian dari pergeseran paradigma pariwisata Belitung — dari sekadar mengejar jumlah kunjungan, menjadi lokomotif ekonomi lokal.
Fokus Kebijakan Pariwisata Belitung:
Minimal lama tinggal: 2,5 malam mulai 2027.
Indikator keberhasilan: bukan sekadar jumlah kunjungan, tetapi nilai ekonomi yang berputar di masyarakat.
Target belanja wisatawan: rata-rata pengeluaran per hari meningkat, dengan 30 persen terserap oleh UMKM dan produk lokal.
Keterlibatan SDM lokal: putra-putri Belitung diprioritaskan sebagai tenaga kerja, pemandu, pengelola destinasi, dan pelaku usaha.
Kutipan Penting Bupati Belitung Djoni Alamsyah:
“Tahun depan, wisatawan yang berkunjung ke Belitung minimal menginap dua hari lebih atau 2,5 malam.”
“Semakin lama wisatawan menginap, tentu berdampak positif terhadap putaran ekonomi di Belitung.”
“Pembangunan pariwisata diarahkan bukan hanya untuk mendatangkan wisatawan, tetapi memperbesar nilai ekonomi yang tercipta dan berputar di Belitung dengan menghubungkan hotel, restoran, destinasi, dan desa wisata dengan UMKM, petani, nelayan, ekonomi kreatif, serta jasa lokal.”
Infrastruktur dan Lingkungan:
Pemkab juga menyiapkan pembenahan destinasi unggulan, salah satunya Pulau Lengkuas. Inventarisasi kebutuhan dilakukan meliputi MCK, air bersih, sanitasi, dan pengelolaan sampah, dengan prinsip kelestarian lingkungan tetap menjadi prioritas dalam setiap penganggaran fasilitas.
Dampak yang Diharapkan 2027:
Aspek: Lama tinggal wisatawan, Target: Minimal 2,5 malam.
Aspek: Belanja wisatawan, Target: Rata-rata meningkat per hari.
Aspek: Proporsi belanja ke UMKM, Target: 30 persen.
Aspek: Keterlibatan tenaga kerja lokal, Target: Prioritas utama.
Aspek: Ekosistem pariwisata, Target: Wisatawan tinggal lebih lama, usaha lokal tumbuh, pelayanan destinasi meningkat.
Analisis:
Kebijakan ini menandai pergeseran paradigma pariwisata Belitung diarahkan sebagai lokomotif ekonomi, bukan sekadar atraksi. Dengan memperpanjang lama tinggal, wisatawan akan lebih banyak berinteraksi dengan ekosistem lokal, sehingga nilai tambah ekonomi lebih terasa bagi masyarakat. Tantangan terbesar adalah memastikan fasilitas pendukung memadai dan SDM lokal siap bersaing dalam pelayanan wisata.












